Feb 25, 2011

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ Maluku merupakan salah satu profinsi bahari di Indonesia karena sembilan puluh persen dari luas daerahnya merupakan lautan. Sebagian besar masyarakat Maluku hidup sebagai nelayan. Sehingga Maluku merupakan penghasil ikan terbesar di Indonesia.

Komoditi perikanan menjadi salah satu komoditi unggulan. Dengan kekayaan laut itu maka muncul pasar ikan sebagai tempat jual beli ikan yang selalu ramai setiap harinya.

Persepsi masyarakat tentang pasar ikan adalah tempat yang kotor dan bau sehingga pembeli tidak merasa nyaman untuk berbelanja. Tanpa disadari kekayaan laut merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki yang seharusnya dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Selain itu Maluku memiliki budaya leluhur yang masih dipegang teguh dalam masyarakatnya.  

daerah maluku terkenal dengan kebudayaan pela-gandong yaitu hubungan kekerabatan yang sangat erat pada orang maluku, sangking eratnya hubungan ini pun kadang menyebabkan suatu masalah baru. masalah yang sejak dulu tidak hilang dari daerah maluku, masalahnya adalah ketika seorang warga suatu kampung atau suatu suku membuat masalah, tidak perduli entah dia benar atau salah maka sukunya atau desanya akan langsung menyerang suku lawan tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Beberapa contoh nilai-nilai budaya Maluku yang lain yaitu sasi, adalah upaya pelestarian alam dan lingkungan, masohi adalah kerjasama kemanusiaan yang menguntungkan, dan ada juga kebudayaan laut yang memiliki nilai penting bagi masyarakat seperti kehidupan nelayan yang dapat digolongkan dalam unsur budaya. Namun saat ini pengaruh globalisasai merupakan ancaman serius terhadap ketahanan budaya warisan leluhur. Untuk itu perlunya pelestarian nilai-nilai kebudayaan ini dengan pada berbagai media agar dapat menyentuh semua lapisan masyarakat. Pasar ikan juga dapat digunakan serbagai media pelestarian budaya karena pada dasarnya pasar ikan tumbuh dari unsur budaya Maluku. 

Selain itu terdapat juga beberapa jenis tarian seperti Katreji, Tarian ini adalah suatu tarian pergaulan masyarakat Maluku yang biasanya digelarkan pada acara-acara negeri / desa berkaitan dengan upacara-upacara pelantikan Raja / Kepala Desa, atau pada acara-acara ramah tamah masyarakat negeri/desa dengan tamu kehormatan yang hadir di negeri/desa-nya.

Dari pendekatan sejarah, tarian ini merupakan suatu AKULTURASI dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku.Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses BILINGUALISME.

Dalam perkembangannya tarian ini kemudian menjadi tarian rakyat yang hampir setiap saat digelarkan pada acara-acara pesta rakyat, baik yang dilaksanakan pada saat hajatan keluarga, maupun negeri/desa, yang menggambarkan suasana suka cita, kegembiraan seluruh masyarakat.Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.